IKE EDWIN,PANUTAN POLITIK SANTUN DALAM PILKADA BANDAR LAMPUNG

IKE EDWIN,
PANUTAN POLITIK SANTUN DALAM PILKADA BANDAR LAMPUNG

Sejak awal pencalonannya sebagai bacalon perseorangan Walikota Bandar Lampung Irjenpol (P) Dr.Hi Ike Edwin.SIK,SH,MH  dengan pasangannya  dr Zam Zanariah,  sudah menjadi sorotan publik.

Betapa tidak, Dang Gusti Ike Edwin sebagai tokoh Adat Lampung, kiprahnya sudah jelas tak diragukan lagi soal adat istiadat serta budaya Tanoh Lado beserta keberadaan Lamban Gedung Kuning ( LGK )  sebagai pusat pelestarian budaya dan adat Lampung. Terlebih Dang Ike sendiri adalah juga Perdana Menteri Kerajaan Adat Lampung Paksi Pak Skala Beghak. 
Begitu pula sebagai polisi Irjen Pol Ike Edwin, integritasnya juga tak bisa dipungki lagi. Terbukti banyak prestasi yang sudah dicatatnya dalam  perjalanan kariernya hingga meraih dua bintang dlpundaknya.

Sebab itu, sangatlah beralasan ketika menjelang pensiunnya sebagai Sahlisospol Kapolri, banyak elemen masyarakat yang mendukung Dang Ike terjun secara independen dalam kontestasi Pilkada Bandar Lampung dengan berpasangan bersama dr Zam Zanariah. Terkait pula, dengan cita-cita dan harapan Dang Ike beribadah kepada Allah,  menyumbangsihkan pemikirannya bagi tanah kelahiran selagi masih diberi kesehatan dan kesempatan.

Banyaknya dukungan masyarakat dalam ajang Pilwakot Bandar Lampung,  membuat Dang Ike semakin yakin bahwa dirinya bersama dr Zam mampu untuk menegakkan demokrasi bersih sebagaimana dambaan masyarakat, yang sudah lama merindukan kepemimpinan yang memahami aspirasi rakyat kota Tapis Berseri.
Dan memegang teguh janjinya kepada masyarakat, sebagaimana yang tertuang dalam visi misi Ike Zam akan membuat Bandar Lampung mendunia.

Tapi ironisnya, di tengah laju perjalanannya pasangan Ike Zam, justru terjegal tindakan inskonstituonal para oknum-oknum penyelenggara Pilkada sendiri.
Diantaranya adanya dugaan oknum Ppk dan Pps yang merubah jumlah data verifikasi faktual (verfak) Ike Zam pada tingkat kelurahan yang sudah tercatat 26.077 tiba-tiba hilang pada sidang pleno kecamatan tinggal hanya 9 ribu sekian. 
Selain itu dugaan intimidasi yang dilakukan para aparat setempat dari tingkat RT, Kaling, Lurah serta Camat yang menghalang-halangi para pendukung Ike Zam untuk tidak melakukan verfak.
Terlebih juga,  sidang pleno kota,  KPU Bandar Lampung memutus secara sepihak.Bahkan lembaga penyelenggara Pemilu tersebut sudah berani mengatakan bahwa Ike Zam tidak lolos verfak sebelum rapat pleno kota  digelar. Puncaknya Bawaslu setempat, juga tidak mengabulkan gugatan atas dugaan kecurangan yang dialami Ike Zam lantaran dianggap tidak cukup bukti.



Hal-hal yang mencederai demokrasi seperti itulah yang membuat Ike Zam gagal melaju dalam Pilkada dan merasa terdzolimi. Namun syukurnya, pada saat seperti inilah Dang Ike justru merasa kian kuat, lantaran bertambah mendapat simpati dari masyarakat Lampung:  Untuk menggugat para oknum penyelenggara agar di copot atau di nonaktifkan demi menjaga kenetralitasan di tempat kelahirannya pada Pilkada 9 Desember 2020.

Dan nama Dang Ike makin berkibar, saat sang tokoh adat dan mantan Kapolda Lampung tersebut memberi contoh kepada publik bagaimana tentang  berpolitik yang santun sesuai demokrasi dibalut nilai-nilai keluhuran budaya Lampung.  
Ketika dengan besar hatinya yang hanya dipunyai oleh sosok negarawan, Dang Ike menerima kehadiran tiga kandidat Pilwakot Bandar Lampung dikediamannya Lamban Gedung Kuning (LGK).

Kesemuanya, mulai dari Rycko Menoza, Yusuf Kohar dan terakhir Eva Dwiana diperlakukan sama, tidak ada satupun diantara mereka yang dilebihkan. Pun begitu Dang Ike juga tidak ekplisit menegaskan bahwa dirinya mendukung salah satu calon. Kendati diakui atau tidak, secara riil, jumlah dukungan Dang Ike baik sebagai tokoh adat dan mantan Kapolda Lampung terbilang besar. "Saya sudah menang kok membawa demokrasi kedaulatan rakyat," ucap  Dang Gusti Ike Edwin dengan senyum khasnya.

Komentar